Pencok Hiris

Pencok Hiris

Dua pekan lalu mendapat telpon dari teman lama sewaktu berkelana di Jakarta. Teman yang secara kebetulan berasal dari kawasan yang sama alias tetangga kampung.  Dia mengundang untuk hadir pada hajatan sunatan anaknya. Dan alhamdulillah bisa menyempatkan hadir pada waktunya, tepatnya satu minggu yang lalu.

Lama meninggalkan kampung halaman rasanya kangen akan menu yang sering ditemui saat tinggal di kampung, hidangan nasi merah yang masih ngebul, asin peda, sambal terasi dan lalapan. Meski berada dalam suasana hajatan yang tentunya penuh dengan sajian atau hidangan serba berlemak sedikitpun rasanya tidak menarik hati untuk menyantap hidangan tersebut. Disela-sela acara berlangsung, ngobrol “ngaler-ngidul” dengan kakaknya teman itu yang secara kebetulan pula sempat betemu saat Jakarta. Lalu dia mengundangnya untuk mampir kerumahnya yang letaknya hanya terhalang beberapa rumah saja. Dan siang harinya menyempatkan untuk bertamu.

Setiba dirumahnya, dia mengajak makan bersama, dia menawarkan menu-menu yang biasa ditemukan dikampung. Seperti disengaja memang menawarkan untuk makan dirumahnya, barangkali ia melihat saya kurang begitu tertarik dengan makanan yang tersaji ditempat adiknya yang lagi hajatan atau juga mungkin adiknya sempat memesan untuk itu karena sebelumnya sempat ngobrol ditelpon menceritakan kekangenan saya terhadap makanan kampung. Terhidang nampak jelas nasi merah, udang, sayur asam, sambal dan lalapan. Tapi tidak hanya itu, ia menawarkan untuk membuatkan pencok hiris. Sebagai orang Sunda tentu saja saya mengenal adanya Rujak Hiris atau Pencok hiris, yang bahan bakunya dari Kacang Hiris, Surawung (Kemangi), Cikur (Kencur), Cengek (Cabe Rawit), garam, gula ditambah sedikir terasi, dan bumbu selebihnya kurang begitu paham karena memang tidak pernah membuatnya sendiri. Dengan sumringah, tentu saja saya mengiyakan untuk makan bersama, apalagi ditawarkanya pencok hiris karena yang namanya pencok hiris tersebut cukup enak, apalagi dimakan saat cuaca panas di tengah hari. (mmm)

Jarang ada pencok hiris di perkotaan!

Sebenarnya di kota tempat saya tinggal pun terkadang masih ditemui pedagang Rujak Hiris meskipun hanya ada di satu-dua tempat saja seperti alu-alun atau sekitar Taman Sari. Sayangnya pedagang rujak atau pencok hiris yang ada tersebut menjual dagangan rujaknya sudah tidak lagi sesuai dengan Rujak Hiris atau Pencok Hiris sesungguhnya, dimana pencok hiris yang ada didominasi dengan Kacang Panjang, Kacang Hirisnya hanya sebagai pelengkap saja dengan alakadarnya.

Ternyata makanan sederhana dibawah ini lebih kuat menarik perhatian saya ketimbang satai dan gulai yang ada ditempat hajatan. Nampak tersaji dengan tempat yang sederhana pula seperti gambar dibawah ini; Pencok Hiris, Hampas Kecap atau Kacang Dameng, Udang, Timun muda dan Kerupuk Bangreng. Untuk yang terakhir “Kerupuk Bangreng” namanya ngarang sendiri karena memang tidak tahu nama sebenarnya, cuma itu kerupuk biasanya banyak dijual ketika ada pertunjukan hiburan seperti Bangreng atau Ronggeng. Dengan ikhlasnya tuh kakanya teman sengaja membelikan secara dadakan dari pasar terdekat. Ops… gak tahu ikhlas atau gak ya karena saya yang bertanya setelah melihat satu bungkus tergeletak dimeja makan.  :-D

Sambal Terasi dan lalapan lainya diabaikan karena ada Rujak Hiris.  (LOL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *