Datang Kembali

Datang Kembali

Melanjutkan tulisan sebelumnya digubuk sebelah, mengenai jawaban atas tulisan sebelumnya disini. Dengan berteman segelas kopi hangat, mari… (drinking) sambil mendengarkan irama syahdu dari Si Cantik Paramitha Rusady yang berlabel “Kurang Kumaha” tea.  Jadi teringat salah-satu lagu lawasnya yang cukup easy listening tapi nuansanya tetap mengasyikan rasanya pantas dijadikan title ini tulisan, ketimbang mikir yang berat-berat untuk judul ya pakai yang pas saja deh, “Datang Kembali” karena baru sempat melanjutkan postingan sebelumnya (LOL)

Datang Kembali

By : Paramitha Rusady

Basa teh Ciciran Bangsa

Kumpulan Pupuh Sunda

Dari sedikit penglihatan mencoba menorehkan selintas pemikiran berkaitan dengan penggunaan bahasa daerah (Basa Sunda). Saat ini kepedulian masyarakat khususnya para remaja terhadap Bahasa Sunda mulai berkurang, kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada komunitas masyarakat perkotaan, tetapi juga diperkampungan. Satu contoh saja penggunaan Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari dimana tempat saya menghirup udara rasanya terus berkurang terutama dikalangan remaja. Benar atau tidak, entahlah. Atau mungkin hanya perasaan saja. (thinking)

Banyak faktor yang sangat mempengaruhi kebiasaan/budaya berbahasa daerah tersebut, diantaranya banyaknya pendatang dari luar daerah dalam rangka mengenyam pendidikan atau sekedar mencari kerja sehingga secara tidak langsung menuntut untuk menggunakan bahasa persatuan yang dibutuhkan. Untuk alasan tersebut tentunya wajib dijunjung tinggi dan memang harus dilakukan dengan semestinya. Bagaimana pun bahasa persatuan menjadi alat yang vital diperlukan dalam bekomunikasi, entah itu bahasa nasional kita “Bahasa Indonesia” atau pun bahasa internasional “Bahasa Inggris”.

Jampe-Jampe Harupat

Hariring tengah peuting mun budak nyaring
Lumayan keur mepees sora nu ngajelenging  :-D

Jampe-Jampe Harupat

Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat

Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat

Disini

Disini

Raga tanpa jurus terasa tandus, kerap rasa sering terbius karena sering manganggap diri tak becus, bukan dalam dagelan atau debus, yang dapat membalikan sorotan mata seolah terbungkus, tapi nyatanya memang harus demi sebuah pandangan lurus, berharap tidak terbawa arus.

Bukan tak ingin berlari untuk menghindari, diri ibarat menapaki seutas tali yang tidaklah ahli, rasanya ngeri lantas butuh genggaman jemari. Jika boleh membela diri, semua itu pembelajaran yang terjadi, tapi nyatanya tak dapat dipungkiri, ketergantungan yang senantiasa merajai. “Sisa  januari”

Disini!